Selasa, 27 Januari 2009

Pirus HIV Menular dalam Waktu 4 Jam


Health News Tue, 27 Jan 2009 09:06:00 WIB

Tahukah Anda virus HIV mampu menjangkau lapisan kulit kelamin wanita yang sehat, untuk mencapai sel-sel kekebalan dalam jangka waktu empat jam.

Hal tersebut berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan para peneliti Amerika dibidang kesehatan.

Berdasarkan penemuan terdahulu, lining secara normal pada zona vagina dapat menghambat efektifnya virus HIV saat melakukan kegiatan seks. Hal tersebut disebabkan karena saat proses kegiatan seks berlangsung, sejumlah besar virus HIV tidak bisa menjangkau jaringan yang terdapat dalam tubuh.

Tetapi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran dari Universitas Northwestern, HIV bisa menjangkau secara normal pada jaringan alat kelamin yang sehat, ke dalam bagian terdalam vagina dan membentuk sel kekebalan tubuh dan menyebar ke leher vagina.

Kepala investigasi, yang juga seorang Professor Sel dan Molekular Ilmu Biologi di San Fransisco, Thomas Hope mengatakan, penemuan tersebut merupakan hasil penting yang perlu diketahui dan di luar dari perkiraan para ilmuwan selama ini.

"Kami mendapatkan pemahaman baru dari bagaimana HIV bisa menyebar pada zona alat kelamin wanita. Sampai saat ini pun, para ilmuwan tidak memiliki ide mengenai secara detail dari bagaimana transmisi seksual dari HIV benar-benar bekerja, mekanismenya masih belum jelas," ujarnya, seperti dikutip dari Sexual Health, Jumat (23/1/2009).

Diharapkan dari penemuan baru tersebut, dapat mengembangkan penemuan baru adanya mikrobasida dan vaksinasi baru untuk membantu dan melindungi wanita melawan HIV. Berdasarkan data Pusat Pengontrol dan Pencegahan Penyakit Amerika disebutkan, sebagian besar infeksi HIV terjadi pada wanita dengan perkiraan sebanyak 56.300 infeksi baru per tahun dan 26 persen merupakan kasus baru HIV.

"Kita membutuhkan strategi pencegahan baru atau therapy untuk memblok pintu masuk virus HIV melalui kulit kelamin wanita dan sejauh ini, kondom masih efektif 100 persen mampu memblok masuknya virus. Namun kami masih mengkhawatirkan karena masyarakat umum tidak sering menggunakan kondom karena alasan lain dan budaya," pungkas Hope. (lsi)

Waspadai Serangan Afasia pasca-stroke


Pasien stroke bukan hanya mengakibatkan seseorang terkena dampak lumpuh, juga bisa menyebabkan seseorang menjadi afasia (kesulitan bicara dan berkomunikasi).

Dokter spesialis saraf dari Omni Hospital Pulomas, dr Ronny Yoesyanto SpS mengatakan, penyakit stroke merupakan gangguan pembuluh darah otak yang terjadi tiba-tiba. Kasusnya bisa berupa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah sehingga mengakibatkan pendarahan di otak. Salah satu efek dari stroke, Ronny menyebutkan, adalah afasia yakni seseorang tidak dapat lagi berkomunikasi atau sulit berbicara.

Umumnya, tingkat keparahan dan luasnya cakupan penderita afasia tergantung lokasi dan keparahan cedera otak. Sementara itu, dokter spesialis bedah saraf dari Omni Hospital Pulomas, Prof Dr Sidiarto Kusumoputro SpS mengatakan, afasia merupakan salah satu dampak yang ditimbulkan dari penyakit stroke.

"Afasia atau gangguan berbahasa adalah ketidakmampuan orang untuk melakukan komunikasi linguistik," papar Sidiarto di seminar "Gangguan Berkomunikasi pasca-Stroke" di Omni Hospital Pulomas, pekan lalu.

Di otak terdapat berbagai bagian dengan fungsi yang berbeda-beda. Pada kebanyakan orang, bagian untuk kemampuan menggunakan bahasa terdapat di sisi kiri otak. Jika terjadi cedera pada bagian bahasa di otak, maka terjadilah apa yang disebut afasia ini. Sidiarto mengatakan, gejala afasia banyak dijumpai sebagai akibat sebuah stroke di belahan (hemisfer) otak kiri yang memang menjadi pusat berbahasa bagi orang yang cekat tangan kanan (right hinder).

"Afasia adalah gangguan linguistik atau tata bahasa yang dijabarkan sebagai sebuah penurunan dan disfungsi dalam isi, bentuk, penggunaan bahasa, dan terkait dengan proses kognitif," tutur spesialis saraf lulusan Universitas Indonesia ini.

Pada beberapa pasien, penderita afasia dapat mengerti bahasa dengan baik, tetapi yang menjadi kendala bagi mereka adalah kesulitan untuk mendapatkan katakata yang tepat atau sulit berkomunikasi.

"Diperlukan peranan keluarga atau orang terdekat dalam menangani pasien afasia. Beruntunglah orang Indonesia yang masih banyak dirawat keluarganya. Artinya, pihak keluarga harus sabar dalam berkomunikasi dengan pasien afasia," sebut Sidiarto yang sudah menerbitkan delapan buku ini. Sidiarto juga menjelaskan, stroke merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu.

Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan jaringan tersebut.

"Stroke disebabkan adanya penyumbatan pembuluh darah otak atau karena bocornya pembuluh darah sehingga menimbulkan perdarahan otak," paparnya.

Sementara itu, Ronny mengatakan, stroke merupakan penyakit yang memiliki gejala samar. Beberapa gejala tersebut di antaranya pikun, penurunan daya ingat, atau bicara menjadi cadel. Untuk serangan stroke yang parah bisa juga terjadi, seperti badan menjadi lumpuh sebelah, kejang, bicara menjadi cadel atau pelo, penglihatan berkurang hingga buta sama sekali, koma, dan pusing berat.

"Beberapa penanganan harus segera diatasi karena apabila tidak diatasi, tidak menutup kemungkinan penyakit ini bisa semakin parah," sebutnya. Ronny juga menambahkan, dalam menangani stroke terdapat istilah golden period atau jangka waktu terbaik penanganan stroke, yakni paling lama empat jam usai serangan atau setelah timbul gejala.

"Tingkat keparahan pada stroke apabila tidak segera diatasi, bisa menimbulkan kecacatan sampai kematian," tutur dokter yang mengambil kedokteran umum di Universitas Brawijaya, Malang. Bila dapat diselamatkan, terkadang si penderita kehilangan ingatan atau afasia. (sindo//lsi)

Sumber: Okezone

Berburu Suplemen Vitamin E Terbaik


Health News Wed, 28 Jan 2009 09:20:00 WIB

Vitamin E merupakan salah satu antioksidan yang berguna menggantikan sel rusak akibat radikal bebas. Kebutuhan tubuh terhadap vitamin E terkadang dirasa tidak cukup hingga harus mengonsumsi suplemen. Mana yang paling baik dari banyaknya bentuk suplemen vitamin E?

Menurut dr Midi Hariyani SpKK, spesialis kulit dan kelamin RSIA Hermina Jatinegara, Jakarta, masing-masing bentuk suplemen punya kelebihan dan kekurangan. Pilihan tergantung pada kebutuhan. Jika untuk tujuan antioksidan secara umum, seperti jantung koroner, katarak, pendarahan, atau antikanker, pilihlah bentuk suntik atau kapsul. Namun, jika untuk antioksidan menahan serangan panas matahari, maka pilih krim atau serum.

"Umumnya, bentuk suplemen ini tak hanya vitamin E, tapi juga ditambah bahan antioksidan lain, seperti vitamin C," sebutnya.

Serum vitamin E

Bentuk serum untuk memperpendek jalur penyaluran vitamin E dalam tubuh, karena langsung mengenai sasaran, yakni kulit. Menurut penelitian, penyerapannya ke kulit hanya butuh 30 menit. Tak salah jika di antara bentuk suplemen lainnya, serum memiliki tingkat serap paling tinggi. Sebelum mengoleskan serum, wajah harus dalam keadaan bersih, kemudian dikeringkan. Serum umumnya dirancang untuk satu sampai dua kali oles sehari.

Krim vitamin E

Bentuk krim juga bertujuan untuk memotong jalan penyerapan vitamin E, agar lebih cepat terserap kulit. Sebelum dioleskan, wajah sebaiknya dalam keadaan bersih, kemudian dikeringkan. Untuk mendapatkan khasiat antioksidannya, krim vitamin E cukup dioleskan satu sampai dua kali sehari. Menurut penelitian, penyerapan krim vitamin E ke kulit membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan serum vitamin E dengan harga yang juga lebih murah.

Kapsul vitamin E

Vitamin E sifatnya larut lemak, bukan larut air. Oleh karena itu, konsumsi kapsul vitamin E harus beserta makanan berlemak, seperti susu atau di tengah makan. Penyerapan ke kulit tentu akan lebih bagus. Kelemahan bentuk kapsul adalah perjalanan panjang yang harus dilaluinya untuk bisa sampai ke kulit, sehingga dibutuhkan dosis tinggi. Bisa jadi, dalam proses pencernaan, vitamin E habis di tengah perjalanan.

Suntik vitamin E

Suntik vitamin E harus ditangani oleh dokter. Dibandingkan kapsul (oral), bentuk suntik lebih cepat terserap ke kulit. Suntik vitamin E bisa dilakukan seminggu sekali dan untuk maintenance, cukup sebulan sekali. Namun, pilihan suntik kadang tak disukai pasien karena alasan sakit.
(tty)

Cacar Air Bisakah Berulang?

Cacar air biasanya mengenai seseorang hanya sekali seumur hidup. Namun, sejumlah orang mengaku mengalaminya bisa dua hingga tiga kali. Mengapa orang bisa terkena cacar berulang kali?


Cacar air merupakan penyakit infeksi yang sangat menular, yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. "Dan kebanyakan memang hanya terjadi sekali," kata Dr. Antonius Arya dari Klinik Imunisasi Dewasa, RS Internasional Bintaro, Jakarta.

Nah, bila cacar itu terjadi lagi pada orang yang pernah terkena, tuturnya, kemungkinan besar itu merupakan herpes zoster. Herpes ini sangat berbeda dengan herpes kelamin yang merupakan golongan penyakit menular seksual.

Lemas dan demam

Cacar air berjangkit melalui batuk dan bersin serta sentuhan langsung dengan cairan dalam lepuh cacar air. Di kalangan anak sehat, penyakit ini biasanya tidak parah dan berlangsung singkat. Kondisi pasien bisa menjadi parah bila disertai terjadinya infeksi bakteri pada kulit yang mengakibatkan bekas luka, radang paru-paru, atau radang otak.

Ditambahkan Dr. Antonius, penyakit ini merupakan penyakit kulit yang cepat menular. Timbulnya tiba-tiba dan paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa terkena. Dan bila orang dewasa yang menderita cacar air, umumnya gejalanya lebih parah.

Penyakit ini timbul pada penderita yang daya tahan tubuhnya menurun. Pada penderita yang memiliki daya tahan tubuh bagus, gejala yang ditimbulkan hanya ringan dan berlangsung singkat dibandingkan dengan penderita yang daya tahan tubuhnya lemah.

Penyakit cacar air yang dikenal dengan varisela biasanya ditandai oleh keluhan tubuh mendadak lemas, tak mau makan, demam, dan gatal-gatal. Virus Varicella ditularkan melalui percikan ludah penderita, bisa juga melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan kulit penderita atau secara tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan lepuh penderita.

Masa inkubasinya, dinyatakan alumnus FK Universitas Sebelas Maret, Surakarta ini, antara 10 hingga 21 hari. Pada anak-anak, jarang dijumpai stadium sebelum kelainan kulit muncul (prodromal). Sementara pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, sering didahului stadium prodromal berupa gejala tubuh lemas, demam, malas makan.

Karena gejala-gejala tersebut mirip dengan gejala banyak penyakit lain seperti flu atau campak, banyak orang terkecoh. Setelah muncul erupsi atau kelainan pada kulit, yang merupakan gejala khas cacar air, barulah ketahuan dengan jelas penyakitnya.

Jangan digaruk

Setelah masa inkubasi, diikuti timbulnya ruam berbintik merah yang berubah menjadi lepuh dalam beberapa jam. Bentuk lepuhannya khas, yaitu seperti tetesan embun (teardrops). Lepuhan ini rata, tidak ada lekukan di tengah (unumbilicated vesicle). Kalau ada lekukan di tengah lepuhan, biasanya bukan cacar air.

"Jika terlihat ada lepuhan, dan mulainya dari bagian tengah badan ke samping, didahului oleh gejala lemas, demam, disertai nafsu makan menurun, dokter sudah memikirkan kemungkinan Anda terkena cacar air," ujarnya. Apalagi jika sekitar dua minggu sebelumnya ada kontak dengan penderita cacar air.

Ruam tadi dapat mengenai kulit dan mukosa, yaitu bisa di badan, muka, dan bagian tubuh yang lain. Bila lepuhan digaruk, akan pecah dan terbuka, dan mudah kemasukan bakteri. Jika mandi dengan air yang tak bersih misalnya, akan terjadi infeksi sekunder karena bakteri.

Jika infeksi ini terjadi, berarti penyakit virus cacar air akan ditambah dengan penyakit bakteri kulit. Penyembuhannya pun tidak lagi primer dan biasanya akan mengakibatkan terbentuknya jaringan ikat (scar) yang akan meninggalkan bekas.

Dosis ketinggalan

Penularan cacar air, seperti dituturkan Dr. M. Yulia Anggraini dari Klinik Bina Insani, Jakarta Selatan, sudah dimulai sebelum timbulnya kelainan kulit, yaitu pada masa inkubasi (24 jam sebelum erupsi). Ketika mendekati masa sembuh pun, masih berisiko untuk menular.

Menurut penelitian, sekitar 12 hari setelah sembuh, penderita baru "aman". Namun, agar lebih aman, sebaiknya tiga minggu setelah sembuh, penderita jangan melakukan kontak dengan orang lain.

Komplikasi penyakit ini pada anak-anak umumnya jarang timbul. Namun, pada orang dewasa dapat menimbulkan terjadinya radang otak (ensefalitis), paru-paru (pneumonia), ginjal (glomerulonefritis), jantung (karditis), hati (hepatitis), bahkan kematian, jika daya tahan tubuh penderita sangat buruk.

Tak ada terapi spesifik untuk cacar air. Bila demam, dapat diberikan obat penurun panas. Untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan bedak yang ditambah dengan zat antigatal (mengandung mentol, kamfora). Selain mengurangi rasa gatal, bedak ini berguna mencegah pecahnya lepuhan lebih dini. Jika timbul infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika.

Setiap orang bisa terkena cacar air, baik mereka yang sudah maupun belum divaksinasi. Sekitar 75 persen anggota masyarakat menderita infeksi cacar air sebelum usia 12 tahun. Orang yang pernah menderita cacar air dianggap kebal dan tidak memerlukan vaksin.

Program Imunisasi Nasional, lanjut Dr. Yulia, memberikan imunisasi secara gratis bagi bayi usia 18 bulan yang belum pernah menderita infeksi cacar air dan dosis ketinggalan untuk remaja kelas 1 SMP, yang belum pernah menderita cacar air dan divaksinasi sebelumnya. Jika di rumah ada anggota keluarga yang belum pernah terjangkit, dewasa maupun anak-anak, usahakan tidak berkontak langsung dengan pasien cacar air.

Langkah yang efektif adalah mendapat vaksinasi cacar air.

Beda Cacar Air dan Cacar Api

Menurut Dr. M. Yulia Anggraini dari Klinik Bina Insani, Jakarta Selatan, istilah kedokteran untuk cacar air adalah varisela. Sementara itu, cacar monyet atau cacar api adalah penyakit kulit lain yang disebut impetigo. Impetigo terdiri atas dua jenis, yakni impetigo krustosa (pada beberapa daerah) yang biasa disebut cacar madu, dan impetigo krustosa atau cacar api (cacar monyet).

Meskipun sama-sama disebut cacar, kedua penyakit ini (cacar madu dan cacar api) tidak sama dengan cacar air. Sebab, seperti dinyatakan Dr. Yulia, cacar air disebabkan virus, sedangkan cacar api adalah bakteri Staphylococcus. Virus dan bakteri adalah dua jenis sumber penyakit yang berbeda. Karena itu, penanganan yang diperlukan berbeda pula.

Cacar madu merupakan kelainan yang terjadi di sekitar lubang hidung dan mulut. Cirinya adalah kemerahan di kulit dan lepuh yang cepat memecab, sehingga meninggalkan keropeng (kulit mati) yang tebal dan berwarna kuning, seperti madu. Bila keropeng dilepaskan, terlihat luka lecet di bawahnya.

Bandingkan dengan cacar api yang sering muncul di ketiak, dada, dan punggung. Cirinya adalah muncul warna kemerahan di kulit dan gelembung-gelembung (mirip kulit yang tersulut bara api rokok). Kemiripan inilah yang mungkin membuatnya disebut cacar api.

"Gelembung di kulit ini berisi nanah yang mudah pecah. Cacar api sangat mudah menular dan berpindah dari satu bagian kulit ke bagian lain. Jika terjadi pada bayi baru lahir, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Penyakit ini dapat disertai demam dan menimbulkan infeksi serius," papar Dr. Yulia.

Karena penyebabnya berbeda, pengobatan kedua jenis cacar tersebut di atas juga berbeda. Meski demikian, ada pula kesamaan di antara keduanya, yakni menimbulkan bekas kalau sampai pecah. Jenis cacar air lebih berat bekasnya.

Nah, bila telah ditemukan penyebabnya, terapinya bisa relatif mudah. "Mengingat cacar api penyebabnya adalah bakteri, tinggal diberi antibiotik yang paten. Mudah-mudahan pasien segera sembuh. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga self hygiene atau kebersihan diri yang baik, agar tidak terjangkit penyakit ini," ujarnya.

Cacar (Tanpa Air) Paling Ganas

Beda cacar air, beda pula cacar tanpa air. Dijelaskan oleh Dr. Yulia Anggraini, cacar yang tidak pakai air ini bahasa medisnya adalah smallpox atau variola.

Beberapa abad lalu virus yang diperkirakan berasal dari India atau Mesir ini mewabah dan membunuh banyak orang. Karena banyak bayi yang meninggal akibat serangan virus ini, tumbuh tradisi yang pantang memberi nama bayi yang baru lahir. Jika si bayi dapat bertahan dari variola, barulah ia akan diberi nama.

Smallpox ini tidak pandang bulu, menjangkiti kalangan mana pun. Tercatat penyakit ini telah membunuh Ratu Mary II dari Inggris, Raja Luis I dari Spanyol, Kaisar Joseph I dari Austria, Ratu Ulrika Elenora dari Swedia, Raja Louis XV dari Prancis, dan Tsar Peter II dari Rusia.

Para ahli kesehatan menyatakan bahwa keganasan virus variola melebihi gabungan berbagai penyakit infeksi lainnya. Virus ini sangat mudah menyebar dari orang ke orang. Gejala terjangkitnya smallpox mirip gejala flu, termasuk demam tinggi, keletihan, sakit kepala, dan sakit punggung, diikuti munculnya ruam di kulit.

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini, dan hanya imunisasi di seluruh dunia yang mampu menghentikan penyebaran smallpox, yang dilakukan pada tiga dekade lalu. Mungkin karena dinilai telah berhasil membungkam cacar ganas ini, pada tahun 1972 pemerintah Amerika Serikat menghentikan vaksinasi rutin.

Catatan tentang cacar (variola):

1. Penyebabnya adalah virus Poxvirus (beda dengan varisela dan zoster).
2. Hampir mirip cacar tetapi vesikelnya jauh lebih banyak. Isi vesikelnya tidak hanya cairan, tetapi nanah dan darah.
3. Terkadang perdarahan begitu banyak. Virusnya dapat mengganggu sistem hematopoetik, sehingga menyebabkan kematian.
4. Dunia menyatakan bebas cacar (variola) tahun 1980. WHO menyatakan kasus terakhir ditemukan di Somalia tahun 1977.
5. Hanya ada dua pusat laboratorium riset di Amerika yang menyimpan virus ini. Masih diperdebatkan apakah akan dimusnahkan atau tidak.
6. Para ahli khawatir virus ini bisa disalahgunakan dan dijadikan senjata biologis untuk menyebarkan penyakit. Ada tuduhan bahwa Irak memiliki virus Variola ini.

Apa Sih Cacar Ular?

Suatu ketika di Klinik Bina Insani, Jakarta Selatan, seorang pasien bertanya, "Dokter, saya seperti mengalami cacar air beberapa tahun lalu, ada ruam-ruam di bagian dada, punggung, mata, dahi, dan hanya di satu sisi tubuh." Menurut Dr. M. Yulia Anggraini yang berpraktik di klinik itu, gejala yang dialami pasien itu patut dicurigai sebagai penyakit herpes zoster.

Penyakit yang populer dengan sebutan dampa, dompo, atau cacar ular ini biasa menyerang orang dewasa/lanjut usia, merupakan sekuel dari penyakit varisela. Ketika seseorang sembuh dari varisela, kalau sial, ada sedikit virus yang berdiam di ganglion saraf. Bila keadaan penderita lemah, kelelahan, atau pada penderita AIDS, si virus yang tadinya diam saja muncul dan menimbulkan herpes zooster. Sangat jarang zooster muncul tanpa didahului varisela.

Gejala herpes zoster, menurut Dr. Yulia, berupa gelembung berkelompok, hanya pada suatu segmen tubuh atau sebelah badan. Rasanya sakit, perih, panas. Pada cacar air, pasien hanya merasa gatal. Virus hidup dalam jaringan saraf belakang. Lokasi kelainan pada kulit sesuai dengan daerah persarafan jaringan tersebut.

Gejala herpes zooster dimulai dengan sakit parah pada bagian dada, punggung, atau di mata dan dahi. Kerap terjadi hanya pada satu sisi tubuh.

Sehari atau dua hari kemudian, herpes muncul pada daerah kulit yang dihubungkan dengan radang saraf. Gejala umumnya adalah panas, pusing, dan tidak ada nafsu makan. Sering juga terasa nyeri di otot dan tulang, kemudian timbul ruam di kulit berwarna kemerahan. Dalam waktu singkat berubah bentol-bentol yang berisi cairan jernih (vesikel). Vesikel ini biasanya berkelompok, berbeda tingkat kematangan isi cairannya. Ada yang jernih, keruh, berisi nanah, bahkan ada yang berisi seperti darah.

Lain dengan herpes kelamin, herpes zooster sama sekali tidak ditularkan akibat kontak hubungan kelamin. Penularannya melalui udara, ludah, atau dari kontak langsung dengan kulit yang sakit.

Patut diwaspadai nyeri yang timbul sesudah serangan herpes. Biasanya berlangsung selama beberapa bulan, kadang sampai beberapa tahun. Semakin tua usia penderita herpes zooster, makin tinggi pula risiko terkena serangan nyeri.

Berbahaya kalau herpes zooster muncul di wajah dan gelembungnya kena mata. Karena itu, herpes perlu penanganan harus tuntas. "Tidak benar kalau merasa sudah sembuh lalu menghentikan obat," ujar Dr. Yulia.

Obat antibiotika tidak dianjurkan. Salah satu obat adalah golongan asiklovir, dengan dosis 5 kali 800 mg selama 7-10 hari.

Tertular Cacar Ketika Hamil

Santi yang sedang hamil delapan bulan tertular penyakit cacar air dari kedua anaknya yang masih balita. Ia merasa cemas virus cacar itu akan membahayakan janinnya. Untunglah menurut dokter tubuhnya sudah imun karena ketika belia pernah terkena cacar. "Tetapi, saya tetap rutin berkonsultasi dengan dokter supaya kondisi janin terus terpantau dengan baik," ujar perempuan yang tinggal di Bandung ini.

Menurut situs CDC (Centers for Disease Control and Prevention), pada ibu hamil yang tidak imun, terutama di empat bulan pertama kehamilan, penyakit cacar dapat membuat janin berisiko terkena kelairan bawaan yang disebut sindroma varisela. Kondisi ini ditandai oleh adanya kelainan bawaan, bisa berupa:

- luka-luka parut di kulit,
- cacat pada anggota badan,
- ukuran kepala kecil,
- gangguan pendengaran atau penglihatan,
- perkembangan mental atau motorik tidak normal.

Ibu hamil yang terkena cacar dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ultrasound secara rinci setidaknya pada usia kehamilan 18-20 minggu, guna melihat ada-tidaknya tanda-tanda kelainan bawaan gangguan lain. Ada kalanya diperlukan konsultasi dengan ahli genetik untuk membicarakan risiko yang akan timbul dan keputusan apa yang sebaiknya diambil.

Jika sakit cacat terjadi pada kehamilan tua dan lebih dari lima hari sebelum melahirkan, kemungkinan kondisi bayi akan baik-baik saja. Ini karena lima hari setelah terinfeksi virus cacar, tubuh si ibu membangun antibodi terhadap virus dan bayi mendapatkan antibodi tersebut lewat plasenta.

Apabila ibu terkena cacar 5-21 hari sebelum bayi lahir, ada kemungkinan si bayi terkena cacar beberapa hari setelah lahir. Namun, karena sudah ada antibodi, kondisinya tidak parah.

Akan lebih membahayakan jika penyakit cacar itu dialami ibu hamil antara lima hari sebelum melahirkan dan dua hari setelah melahirkan. Si kecil berisiko terpapar virus dan bisa menjadi serius karena tidak sempat mendapat kiriman antibodi dari sang ibu.

Pada kasus ini, 30-40 persen berisiko mengalami varisela neonatal yang mungkin memerlukan penanganan jangka panjang, bahkan sepanjang hidup. Keparahan ini bisa dikurangi dengan suntikan varicella zoster immune globulin (VZIG) segera setelah lahir.

Agar Penderita Lebih Nyaman

Serangan penyakit cacar, meski sifatnya ringan, tetap bisa membuat pasien terganggu dan merasa tidak nyaman. Demam bercampur rasa gatal dan ketidaknyamanan lain membuat pasien, terutama anak-anak, bisa merengek semalaman.

"Cucu saya juga lagi kena cacar air tuh, rewel terus jadinya. Saya sampai nggak bisa tidur, ikut jagain dia," cerita Tatty yang tinggal di kawasan Sarua, Tangerang ini.

Untuk meringankan gangguan tersebut, orangtua bisa melakukan kiat-kiat berikut:

- Beri kompres dingin yang telah dibubuhi obat antigatal setiap 3-4 jam pada beberapa hari pertama. Mandi air hangat yang telah diberi obat antigatal setiap hari juga diperbolehkan. Mandi tidak membuat cacar menyebar.
- Keringkan tubuh dengan cara menekan-nekannya dengan handuk, bukan menggosoknya.
- Beri lotion atau bedak antigatal pada area yang gatal, tetapi tidak untuk muka, terutama di dekat mata.
- Ganti baju setiap hari.
- Cacar yang tumbuh di mulut membuat penderita sulit makan. Pilih makanan yang dingin, lembut, atau sudah diblender. Hindari makanan asam seperti jus jeruk atau asin karena bisa membuat luka di mulut makin perih.
- Tanyakan kepala dokter tentang krim pereda nyeri untuk dioleskan pada luka di daerah genital jika cacar juga muncul di area intim tersebut.
- Hindari pemberian aspirin karena berkaitan dengan sindroma Reye, yang bisa mengarah pada gangguan lever.
- Potong kukunya agar tidak menggaruk ruam di kulit untuk menghindari timbulnya infeksi. Mungkin perlu memakai kaus tangan.
- Pisahkan dari orang sehat agar mereka tidak tertular.

Pilih Vaksin atau Imun Karena Cacar?

Tak sedikit orangtua yang ragu terhadap vaksinasi cacar karena anak yang sudah diimunisasi tetap berisiko terkena cacar air. Sementara bila anak pernah terkena cacar, di tubuhnya akan terbangun antibodi terhadap virus tersebut. Jadi, lebih baik mendapat kekebalan dari vaksinasi atau dari infeksi virus varicella itu sendiri?

Dr. Antonius Arya menjawab dengan tegas, "Vaksinasi!" Vaksinasi memberikan perlindungan penuh terhadap cacar air pada 8-9 dari 10 orang. Pada orang yang tetap mengalami cacar air setelah vaksinasi, cacar air yang dialami sangat ringan, dengan jumlah ruam di bawah 50, demam ringan atau tanpa demam. Sakit cacar juga hanya berlangsung beberapa hari. Bandingkan dengan 500 ruam (lepuh) yang bisa dialami pasien cacar karena belum divaksinasi.

Pada anak yang telah divaksin, cacar yang terjadi bersifat ringan hingga sedang. Jika anak belum divaksin, infeksi cacar berisiko menimbulkan komplikasi berupa pneumonia berat, kejang atau infeksi otak (ensefalitis), bahkan bisa fatal.

Vaksinasi sebaiknya diberikan kepada:

1. Anak usia 12-18 bulan yang belum terkena cacar air harus mendapatkan satu dosis vaksinasi.
2. Anak usia 19 bulan hingga 13 tahun yang belum terinfeksi cacar air harus mendapatkan satu dosis vaksinasi.
3. Orang dewasa yang belum mengalami cacar air dan bekerja atau tinggal di lingkungan yang rentan penularan cacar air, seperti di sekolah, panti penitipan anak, rumah sakit, asrama, penjara, atau barak militer.
4. Wanita usia produktif yang belum pernah terkena cacar air dan tidak sedang hamil.
5. Orang dewasa dan remaja yang belum terkena cacar air dan tinggal dengan anak-anak.
6. Orang yang hendak bepergian ke luar negeri dan belum mengalami cacar air.